Sumber : Bapak A. Wali M (56th) dan nenek Maisarah (90th)
Desa : Lubuk bangkar
Kecamatan : Batang asai
Penulis : Rudi nata
Perjuangan bangsa indonesia dalam melawan penjajahan belanda memang
sangat penuh tantangan yang sangat berat. Senjata canggih bangsa belanda hanya
bersanding dengan bambu runcing dari para pejuang indonesia. Namun hal itu
tidak menyurutkan semangat para pejuang indonesia. Hal ini dibuktikan dengan
proklamasi yang diucapkan oleh ir.soekarno pada tanggal 17 agustus 1945.
Pada setiap tanggal tersebut kita seluruh warga negara indonesia
merayakan hari kemerdekaan RI dengan mengadakan upacara bendera di setiap
sekolah-sekolah, kantor-kantor dan instansi lainnya.
Pada agresi militer belanda kedua, dua belas orang tentara indonesia yang
berasal dari pulau jawa sampai ke desa lubuk bangkar. mereka ditugaskan untuk
mempertahankan kemerdekaan RI, karena walaupun indonesia sudah dinyatakan
merdeka namun tentara belanda masih banyak berkeliaran sampai ke
pelosok-pelosok desa diseluruh nusantara.
kedua belas tentara tersebut
tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh maisarah dan ibunya, maisarah pada
saat itu berumur sekitar sepuluh tahun. Kedatangan mereka disambut dengan suka
cita oleh seluruh penduduk desa lubuk bangkar.
Sudah dua bulan semenjak kedatangan tentara ke desa lubuk bangkar.
Keadaan desa lubuk bangkar masih aman dan tentram hingga akhirnyas ampailah
pada hari yang naas itu, dimana kesebelas teman kopral kadul bersiap-siap untuk
meninggalkan desa lubuk bangkar karena ada sebuah kabar yang menyatakan bahwa
tentara belanda sedang menuju desa lubuk bangkar untuk menangkap kedua belas
tentara indonesia tersebut. Tapi entah kenapa kopral kadul terlihat sangat
berat untuk meninggalkan desa lubuk bangkar, teman-teman kopral kadul berusaha
membujuk sang kopral agar ikut serta pergi mengungsi dari desa lubuk bangkar.
namun dengan tegas sang kopral mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal di desa
tersebut. Dengan berat hati, teman-teman sang kopral pergi meninggalkan sang
kopral, maisarah dan ibunya di desa lubuk bangkar.
Pagi itu sekitar jam tujuh, sang kopral dengan santainya menghirup
secangkir kopi di depan rumah ibunya maisarah, tiba-tiba saja ada beberapa
warga yang memberi tahu kepada sang kopral bahwasanya pasukan belanda sudah
sampai di desa lubuk bangkar dan sedang menuju ke rumah yang dihuni oleh sang
kopral. Sang kopral pun segera menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bawah
tumpukan padi didalam kamar yang menjadi lumbung padi.
Sementara itu di sebuah tanah lapang di desa lubuk bangkar, belanda sudah
mengumpulkan semua warga untuk ditanyai mengenai keberadaan tentara indonesia.
Di antara warga tersebut ada dua orang yang disiksa habis-habisan oleh tentara
belanda yaitu Bakri dan Mat suri. Namun, dengan gigihnya kedua orang tersebut
tetap berusaha menyembunyikan keberadaan tentara indonesia, ketika kedua orang
penduduk tersebut sedang dipukul dengan batang manau (sejenis rotan berukuran
sebesar lengan anak kecil) tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara
tembakan senjata dari arah rumah maisarah. Segera saja semua tentara belanda
bergerak menuju ke arah sumber ledakan.
Sesampainya di sana, ternyata rumah maisarah sudah penuh dengan darah
segar yang mengalir deras dari tubuh sang kopral. Mayat sang kopral diseret
keluar dari rumah dan diletakkan di depan rumah untuk dipertontonkan kepada
semua penduduk desa lubuk bangkar.
Atas perintah sang komandan pasukan, salah seorang prajurit yang bernama Lumban
(yang menembak mati sang kopral) menggeledah mayat sang kopral, namun alangkah
terkejutnya si lumban karena didalam
saku sang kopral ditemukan selembar kartu identitas yang menunjukkan bahwa sang
kopral adalah suami dari adik ipar lumban. Hal ini tentu saja membuat lumban
merasa sangat bersalah.
Masih merasa kurang puas, komandan pasukan belanda memerintahkan seluruh
prajuritnya untuk melanjutkan pencarian kesebelas pejuang indonesia ke desa
muara pemuat yaitu sebuah desa yang berada tidak terlalu jauh dari desa lubuk
bangkar.
Setelah pasukan belanda meninggalkan desa lubuk bangkar, oleh penduduk
setempat mayat kopral kadul segera dimandikan, dishalatkan dan dimakamkan di
guguk mayan yaitu sebuah kampung kecil di seberang desa lubuk bangkar yang
dibatasi oleh sungai batang cuban.
Sampai tahun 1978 mayat kopral kadul masih
disemayamkan ditempat tersebut hingga akhirnya salah seorang TNI yang bernama
M. Sakir noh macan atas perintah atasannnya yaitu komandan syamsu untuk
memindahkan mayat koral kadul ke taman makam pahlawan Bangko. Sampai sekarang
makam sang kopral masih dapat dilihat dipemakaman para pejuang-pejuang
kemerdekaan yang rela bertaruh nyawa untuk membebaskan diri dari jajahan
belanda yang biadab.
keterangan:
ibu maisarah narasumber dan rumahnya yang menjadi tempat kopral kadul ,enghe,buskan nafas terakhirnya (kiri atas), bukit guguk mayan (kanan atas) dan bapak A. wali narasumber (bawah)