Jumat, 01 Februari 2013

cerita rakyat "lumbung padi berdarah"

Sumber                  : Bapak A. Wali M (56th)  dan nenek Maisarah (90th)
Desa                      : Lubuk bangkar
Kecamatan            : Batang asai
Penulis                   : Rudi nata

 Perjuangan bangsa indonesia dalam melawan penjajahan belanda memang sangat penuh tantangan yang sangat berat. Senjata canggih bangsa belanda hanya bersanding dengan bambu runcing dari para pejuang indonesia. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat para pejuang indonesia. Hal ini dibuktikan dengan proklamasi yang diucapkan oleh ir.soekarno pada tanggal 17 agustus 1945.
Pada setiap tanggal tersebut kita seluruh warga negara indonesia merayakan hari kemerdekaan RI dengan mengadakan upacara bendera di setiap sekolah-sekolah, kantor-kantor dan instansi lainnya.
Pada agresi militer belanda kedua, dua belas orang tentara indonesia yang berasal dari pulau jawa sampai ke desa lubuk bangkar. mereka ditugaskan untuk mempertahankan kemerdekaan RI, karena walaupun indonesia sudah dinyatakan merdeka namun tentara belanda masih banyak berkeliaran sampai ke pelosok-pelosok desa diseluruh nusantara.
 kedua belas tentara tersebut tinggal di sebuah rumah yang dihuni oleh maisarah dan ibunya, maisarah pada saat itu berumur sekitar sepuluh tahun. Kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh seluruh penduduk desa lubuk bangkar.
Sudah dua bulan semenjak kedatangan tentara ke desa lubuk bangkar. Keadaan desa lubuk bangkar masih aman dan tentram hingga akhirnyas ampailah pada hari yang naas itu, dimana kesebelas teman kopral kadul bersiap-siap untuk meninggalkan desa lubuk bangkar karena ada sebuah kabar yang menyatakan bahwa tentara belanda sedang menuju desa lubuk bangkar untuk menangkap kedua belas tentara indonesia tersebut. Tapi entah kenapa kopral kadul terlihat sangat berat untuk meninggalkan desa lubuk bangkar, teman-teman kopral kadul berusaha membujuk sang kopral agar ikut serta pergi mengungsi dari desa lubuk bangkar. namun dengan tegas sang kopral mengatakan bahwa dia akan tetap tinggal di desa tersebut. Dengan berat hati, teman-teman sang kopral pergi meninggalkan sang kopral, maisarah dan ibunya di desa lubuk bangkar.
Pagi itu sekitar jam tujuh, sang kopral dengan santainya menghirup secangkir kopi di depan rumah ibunya maisarah, tiba-tiba saja ada beberapa warga yang memberi tahu kepada sang kopral bahwasanya pasukan belanda sudah sampai di desa lubuk bangkar dan sedang menuju ke rumah yang dihuni oleh sang kopral. Sang kopral pun segera menyelamatkan diri dengan bersembunyi di bawah tumpukan padi didalam kamar yang menjadi lumbung padi.
Sementara itu di sebuah tanah lapang di desa lubuk bangkar, belanda sudah mengumpulkan semua warga untuk ditanyai mengenai keberadaan tentara indonesia. Di antara warga tersebut ada dua orang yang disiksa habis-habisan oleh tentara belanda yaitu Bakri dan Mat suri. Namun, dengan gigihnya kedua orang tersebut tetap berusaha menyembunyikan keberadaan tentara indonesia, ketika kedua orang penduduk tersebut sedang dipukul dengan batang manau (sejenis rotan berukuran sebesar lengan anak kecil) tiba-tiba mereka semua dikejutkan oleh suara tembakan senjata dari arah rumah maisarah. Segera saja semua tentara belanda bergerak menuju ke arah sumber ledakan.
Sesampainya di sana, ternyata rumah maisarah sudah penuh dengan darah segar yang mengalir deras dari tubuh sang kopral. Mayat sang kopral diseret keluar dari rumah dan diletakkan di depan rumah untuk dipertontonkan kepada semua penduduk desa lubuk bangkar.
Atas perintah sang komandan pasukan, salah seorang prajurit yang bernama Lumban (yang menembak mati sang kopral) menggeledah mayat sang kopral, namun alangkah terkejutnya  si lumban karena didalam saku sang kopral ditemukan selembar kartu identitas yang menunjukkan bahwa sang kopral adalah suami dari adik ipar lumban. Hal ini tentu saja membuat lumban merasa sangat bersalah.
Masih merasa kurang puas, komandan pasukan belanda memerintahkan seluruh prajuritnya untuk melanjutkan pencarian kesebelas pejuang indonesia ke desa muara pemuat yaitu sebuah desa yang berada tidak terlalu jauh dari desa lubuk bangkar.
Setelah pasukan belanda meninggalkan desa lubuk bangkar, oleh penduduk setempat mayat kopral kadul segera dimandikan, dishalatkan dan dimakamkan di guguk mayan yaitu sebuah kampung kecil di seberang desa lubuk bangkar yang dibatasi oleh sungai batang cuban.
Sampai tahun 1978 mayat kopral kadul masih disemayamkan ditempat tersebut hingga akhirnya salah seorang TNI yang bernama M. Sakir noh macan atas perintah atasannnya yaitu komandan syamsu untuk memindahkan mayat koral kadul ke taman makam pahlawan Bangko. Sampai sekarang makam sang kopral masih dapat dilihat dipemakaman para pejuang-pejuang kemerdekaan yang rela bertaruh nyawa untuk membebaskan diri dari jajahan belanda yang 
biadab.







 keterangan:
ibu maisarah narasumber dan rumahnya yang menjadi tempat kopral kadul ,enghe,buskan nafas terakhirnya (kiri atas), bukit guguk mayan (kanan atas) dan bapak A. wali narasumber (bawah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar